Dialektika 

Jabatan Guru Besar dan Tiket Pilpres 2024

Ada anggapan yg harus diluruskan di masyarakat bawah Professor adalah gelar akademik tertinggi. Tentu saja anggapan ini tidak benar. Professor atau guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi bagi akademisi di perguruan tinggi. Tidak benar juga bahwa Professor harus jadi ‘penemu’ atau menjadi syarat kehebatan intelektual seseorang. Untuk mapan dan hebat secara intelektual tidak harus menyandang gelar Professor, kalau memang tidak berkarir di perguruan tinggi. Jabatan Professor juga bukan penghargaan atas jasa seseorang, walaupun menjadi budaya baru di Indonesia memberikan gelar Dr.(HC) dan Professor kehormatan pada politisi atau mantan pejabat.

Gelar Professor adalah jabatan fungsional tertinggi di PT, mungkin setara dengan jabatan struktural eselon II atau eselon I, kalau di TNI Polri setara dengan pangkat Mayjen atau Irjen secara golongan. Jabatan ini didapatkan dari aktivitas mengajar, membimbing tugas akhir, penelitian dan pengabdian masyarakat atau Tri Dharma PT. Pertanyaannya apakah Bu Mega membutuhkan jabatan guru besar itu? Apakah mungkin beliau menjadi akademisi di PT? Atau sebaliknya, apakah Universitas Pertahanan membutuhkan Bu Mega untuk mengisi jabatan guru besar disana? Status Bu Mega sebagai mantan Presiden tentu memiliki posisi tertinggi, karena merupakan jabatan puncak untuk semua jabatan lain termasuk ‘jabatan fungsional’ dan struktural di negeri ini, jadi jabatan guru besar bisa jadi ‘turun tangga’ untuk beliau.

Saya justru menangkap sisi lain yang mungkin berbahaya. Sisi itu adalah pelajaran pada masyarakat untuk mengedepankan gelar dan simbol-simbol dibandingkan substansi. Seseorang lebih semangat mengejar gelar dibandingkan pintar dengan banyak belajar. Termasuk simbol-simbol lain seperti simbol jabatan dan simbol kekayaan, melupakan substansi esensi kehidupan yg lebih penting. Terjebak pada mengutamakan bungkus dibanding isi.

Bahaya lainnya adalah budaya ‘ABS’, asal bapak senang. Budaya dimana bawahan ‘membahagiakan’ atasan untuk mendapatkan sesuatu. Saya sendiri membaca ini bagian dari strategi ‘pendekatan’ Pak Prabowo kepada Bu Mega untuk kepentingan 2024. Nampaknya Pak Prabowo paham betul cara ‘berkomunikasi’ dengan wanita, yaitu membuatnya bahagia dan tersanjung. Sisanya sang wanita akan memberikan apa yg dibutuhkan, tentu saja dalam konteks ini dukungan pencapresan 2024. Ini pandangan saya saja, pembaca punya pendapat lain?

Spread the love

Related posts